Arief Buddy Memberitahu Pertemuannya dengan Aaron Myself di Kantor KPU

Arief Budiman Kisahkan Pertemuannya dengan Harun Masiku di Kantor KPU

[ad_1]

<! –

->

Voice.com – Ketua Komisi Pemilihan Umum Indonesia (KPU), Arief Budiman, mengaku telah menerima Harun Masiku, seorang politisi PDIP yang telah menjadi tersangka dalam kasus korupsi mantan komisioner KPU Rev. Setiawan, di kantornya di kantor KPU Pusat.

Pertemuan itu diceritakan oleh Arief saat bersaksi di persidangan dengan terdakwa kadet PDI-P Bahne Bahri di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (20/4/2020).

Saeful diduga telah memberikan wahyu dari Sekretariat kepada Komisi untuk menunjuk Harun Masiku sebagai anggota DPR untuk menggantikan kandidat PDIP Nazaruddin Kiemas. Harun Masiku masih merupakan KPK yang masih baru.

Jaksa Penuntut Ronald F. Worotikan pada awalnya bertanya apakah Aiman ​​Budiman mengenal Aaron sendiri dan apakah ia telah bertemu.

"Begitu dia (Harun Masiku) datang ke tempat saya (kantor KPU), saya tidak ingat waktu," kata Arief saat konferensi video.

Jaksa juga membaca BAP Arief bahwa pertemuannya dengan Harun berlangsung pada September 2019. Kemudian, Arief hanya mengkonfirmasi bahwa ia bertemu Harun, setelah PDIP mengajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung (MA) atas permintaannya untuk menjadi anggota DPR.

Lebih lanjut, Pengacara Ronald juga bertanya apakah Aaron datang bersama seseorang atau dengan terdakwa Bahri Bowl.

"Tidak berkesan. Tapi dia datang dengan satu orang. Tidak tahu (apakah itu Bahri Bowl)," jawab Arief

Arief menjelaskan bahwa Aaron tiba-tiba datang ke kantornya, tanpa membuat janji.

"Itu tidak (mengatur jadwal). Saya pikir dia akan datang, saya tidak punya tamu lain, jadi saya membiarkannya," kata Arief

Arief juga mengundang Harun untuk duduk di ruang tamu tempat dia bekerja. Menurut Arief, tidak banyak diskusi dengan Aaron Masiku.

"Ya, dia baru saja menyampaikan poin bahwa sudah ada surat PDIP terkait keputusan peninjauan kembali Mahkamah Agung yang meminta untuk dilaksanakan," kata Arief.

Namun, Arief mengakui bahwa Komisi setuju untuk tidak menggantikan almarhum Nazaruddin Kiemas dengan Harun Masiku, sebagai Komisi di bawah UU MD3 dan menunjuk kandidat PDIP lain, Riezky Aprilia sebagai Anggota Parlemen.

"Saya mengklarifikasi bahwa Komisi telah bertindak sehubungan dengan petisi. Dan sebagai akibat dari pelanggaran hukum tidak dapat dilanjutkan, itu tidak dapat dipenuhi," pungkas Arief

Dalam hal ini, Bahra Bowl diduga menuduh mantan komisioner Komisi, Pendeta Setiawan dengan Rp 600 juta. Suap itu datang dari Harun Tuhanku.

Bahri Bowl didakwa melakukan tindak pidana dalam pasal 5 ayat 1 huruf a dari KUHP No. 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

[ad_2]

Source link