Berbicara tentang Virus Haji dan Corona, Anggota Komisi VIII dari House of Mourning

semarak.co - Merupakan Portal Berita News Nasional Terkini, Terbaru dan Menyajikan Berita Paling Update Saat Ini.

[ad_1]

Dalam hal ziarah virtual dan umroh, diprakarsai oleh Forum Komunikasi Peziarah Indonesia (PB FKAPHI), Kamis (4/4/2020) Anggota Komisi VIII Ali Taher Parasong menangis ketika berbicara di Masjid Suci dan Masjid Nabawi ditutup selama wabah. virus koronal (Covid-19).

semarak.co Ketua PB FKAPHI Affan Rangkuti mengatakan materi yang dipresentasikan di Dewan FKAPH Pusat dan Daerah melalui media diskusi virtual melalui zoom online sangat relevan dengan nasionalisme dan agama. Dalam kesaksiannya, Ali Taher menyentuh persiapan persiapan pelaksanaan Haji 2020 terkait dengan masalah Haji saat ini dan wabah Covid-19 di awal ceramahnya.

"Bahwa dunia mengalami kejutan budaya, kejutan budaya, dalam konteks kerohanian. Oleh karena itu, kita diharapkan untuk menangani semua masalah ini dengan tenang, sabar dan hati-hati dan harus bertindak tegas," desak Ali.

Dia bahkan mengkritik bagaimana implementasi ibadah haji 2020 sejauh ini belum diputuskan oleh pemerintah. Ini sangat tergantung pada Pemerintah Arab Saudi, dan proposal dari Satuan Tugas Covid-19.

Pesan ziarah menyentuh hati para peserta jagung ketika mantan Ketua Komisi VIII DPR berbicara sebelumnya tentang penutupan dua masjid besar di seluruh dunia, yang pertama adalah Masjid Suci di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Ali Taher tidak hanya menangis, tetapi hampir semua peserta daring tersentuh mendengarnya menangis. "Dengan wabah Corona saat ini, Tuhan telah memberi kita pelajaran besar, Tuhan telah mengajar dan memperingatkan," kata Ali.

Mungkin kita semua diabaikan dalam kewajiban kita, melanjutkan kuliah Ali, seperti memberikan sedekah kepada saudara-saudari kita, kita mungkin lupa memberikan hadiah kepada anak yatim. Berikan kepada yang membutuhkan.

Tidak hanya di sini saya mengatakannya, tetapi di DPR saya selalu mengatakannya. Selain itu, bocah lelaki NTT ini mengatakan ketika dia muda dia bercita-cita untuk membantu dan mengembangkan nilai-nilai pribadi dan sosial di sana.

Baginya, sebagai seorang Muslim, kita bisa menghargai perbedaan keyakinan kita, dengan Islam kita bisa hidup dengan agama lain demi kemajuan negara. "Islam adalah berkah," kata Ali.

Ceramah-ceramah Ending Ali Taher mengemukakan bahwa ada tujuh kunci kesuksesan yang merupakan dasar pelayanan, yaitu ketulusan, ketekunan, kesabaran, kebaikan, kepercayaan, kepercayaan diri, dan harapan rahmat Tuhan semata.

Di sisi lain, Ali Taher meminta Kepala Seksi Administrasi Haji dan Umrah (PHU) di Kabupaten Kota untuk berhubungan langsung dengan jamaah agar tetap up to date tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan ziarah baik di DPR dan di Kementerian Agama.

Ali mengatakan permintaan itu dibuat karena masih banyak informasi yang menyesatkan mengenai praktik ziarah. Dia meminta untuk tetap menunggu informasi resmi dari pemerintah dan Parlemen.

"Masih menunggu informasi dan mengikuti perkembangan terbaru, terutama kebijakan yang dikeluarkan oleh DPR dan Menteri Agama, saya pasti akan berbicara dengan Direktur Jenderal PHU dan Bapak Wamen (Wakil Menteri Agama) dan Insya Allah, jika kami memiliki perkembangan katakan padaku, "katanya.

Diskusi yang diprakarsai oleh PB FKAPHI dihadiri oleh administrator FKAPHI, baik manajemen umum maupun kepala daerah. FKAPHI sebelumnya mengadakan diskusi dengan Direktur Jenderal Manajemen Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama Nizar, Direktur Haj H Khoirizi dan Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Eka Jusuf Singka.

"Pasti ada banyak berita negatif tentang ziarah saat ini. Situasi saat ini darurat dan bahkan Presiden Jokowi telah memutuskan bahwa ini adalah bencana nasional.

"Banyak informasi yang beredar di masyarakat kita membutuhkan tabbayyun, yang masuk akal karena ada aspek kejut psikologis dan yang bisa dijadikan referensi tabbayun, baik Parlemen dan Pemerintah," katanya.

Jadi sebelum ada keputusan Komisi VIII DPR dan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, informasi tersebut tidak dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah ziarah dibuat atau tidak. "Kita harus bersabar untuk tetap mendapatkan data terbaru sehingga ketika suatu keputusan dibuat, kita akan menyerahkannya untuk kepentingan komunitas kita," katanya.

Dia menyarankan bahwa dalam menanggapi informasi yang dikembangkan di masyarakat, itu harus rasional, obyektif dan proporsional dalam mengevaluasi informasi yang disajikan di media.

"Jangan salah, tetapi juga perlu dijawab dengan sikap tawwadu dan tabayyun karena ziarah ini merindukan setiap orang, semua orang berharap dan ingin pergi," kata Ali.

Seperti diketahui, lelaki kelahiran Lamakera, Solor Timur, Flores Timur, NTT, 9 Februari 1961, tidak dapat menahan emosinya saat membahas masalah Islam dan ziarah. Ali tidak dapat menahan air matanya ketika ia menjadi pembicara tamu di depan administrator FKAPHI, baik manajemen puncak dan pimpinan PHU distrik dan distrik.

"Karena ziarah ini tertunda, semua orang berharap dan ingin pergi ke sana. Anda menangis kosong, masjid Medina di Madinah kosong, kita semua menangis," kata Ali.

Ali Tentu, di balik layar tragedi manusia selalu ada kebijaksanaan, katanya, Tuhan telah memberikan pelajaran bagi umat manusia. Bukan karena kesalahan manusia, sikap atau tindakan, tetapi karena itu adalah cara Allah untuk menegur umat-Nya.

"Kami percaya bahwa di balik peristiwa ini ada kebijaksanaan, Tuhan telah mengajarkan kita, tidak ada yang salah dalam hati, sikap dan tindakan kita, Tuhan menegurnya tetapi kita percaya Tuhan akan mengurangi penyakit dan Tuhan akan menyembuhkannya, jadi kita harus bertindak baik untuk Tuhan, "katanya dengan nada berbisik.

Dia mengakui bahwa dia benar-benar membela Kementerian Agama, karena Kementerian Agama adalah tujuan akhir untuk melestarikan ketahanan spiritual negara. Di Kementerian Agama sendiri salah satu langkah terbaik adalah ziarah.

"Saya selalu membela Kementerian Agama setiap kali ada kesempatan, karena tujuan akhir mempertahankan daya tahan spiritual negara itu adalah Kementerian Agama, Haji," katanya.

Dia juga menyarankan seluruh Kementerian Agama ASN untuk terus bekerja dengan ketulusan dan kesabaran, dengan mengatakan bahwa kesalehan spiritual akan menghasilkan kesalehan sosial.

Dalam arahannya, ia menuntut agar seorang pemimpin Muslim melakukan tiga fungsi utama, termasuk Fungsi Crunch, Fungsi Kekhalifahan, dan Fungsi Menghormati. "Kita harus mengatasi ketiga fungsi ini dengan melakukan, bekerja dengan baik, bekerja dengan tulus, bekerja dengan bijaksana untuk kepentingan rakyat dan bangsa," katanya.

Mengakhiri ceramah Ali Taher menunjukkan bahwa ada tujuh kunci kesuksesan yang merupakan dasar pelayanan, yaitu, ketulusan, ketekunan, kesabaran, kebaikan, kepercayaan, niat baik, dan harapan akan kehendak Tuhan saja. (smr)

sumber: koresponden Kementerian Agama WA / kemenag.go.id

[ad_2]

Source link