Dewan mendukung Dewan Pers, mendesak media untuk melihat kode etik dalam liputan pandemi

DPR dukung Dewan Pers imbau media perhatikan kode etik liputan pandemi

[ad_1]

Jakarta (ANTARA) – Wakil Komisaris Dewan Perwakilan Rakyat I Bambang Kristiono mengatakan, Komisi mendukung Dewan Pers untuk mengoptimalkan seruan kepada media massa untuk mempertahankan etika jurnalistik ketika melaporkan pandemi COVID-19.

"Kami mendukung upaya Dewan Pers untuk mengoptimalkan daya tarik media massa sehingga mereka terus mengamati Kode Etik Jurnalistik ketika melaporkan COVID-19," kata Bambang dalam membaca kesimpulan pertemuan Komite Dengar Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat (RDP) dengan KPI Pusat dan Dewan Pers pada hari Senin. .

Dia mengatakan Komisi Dewan Perwakilan Rakyat juga meminta Dewan Pers dan konstituennya untuk secara aktif dan aktif melindungi jurnalis.

Baca Juga: Media menjadi "rumah penjelasan" untuk wabah tipuan Corona

Menurutnya, ini adalah untuk menjaga pekerjaan tetap aman saat melaporkan selama COVID-19 pecahnya untuk kelangsungan keberadaan perusahaan pers.

Dalam RDP, Ketua Dewan Pers M Noah mengatakan media senang melaporkan COVID-19 pasien yang telah pulih, yang berarti meningkatkan harapan dan keyakinan bahwa wabah akan segera berakhir.

"Karena itu, ketika orang pulih, dilaporkan bahwa mereka telah memberikan optimisme masyarakat bahwa COVID-19 dapat disembuhkan tetapi pada saat yang sama tidak dapat meremehkannya," katanya.

Dia mengatakan bahwa sehubungan dengan kebijakan Skala Jaminan Sosial (PSBB) yang diadopsi oleh beberapa pemerintah daerah, dia telah menerima perhatian media karena menyebabkan beberapa masalah yang sedang dikritik oleh media.

Baca juga: Dewan Pers mengusulkan agar pemerintah memberikan dorongan kepada pers

Namun dia mengatakan kritik atau pandangan media tentang kebijakan itu tidak negatif karena itu merupakan upaya untuk menyempurnakan kebijakan yang akan diterapkan.

"Kami masih memiliki kode etik jurnalistik dalam semangat mitra media kami dan kami melihatnya saat kami masih di koridor jurnalistik. Kritik adalah bagian dari upaya dan tugas kami meskipun harus disampaikan dalam bahasa yang sopan," katanya.

Selain itu, ia mengakui bahwa ada laporan media sensorik terkait COVID-19 yang mengganggu dan berpotensi mengkhawatirkan.

Baca juga: Dewan Pers menyajikan sembilan inisiatif yang diusulkan untuk perusahaan surat kabar

Menurutnya, berita yang tidak mendidik publik, misalnya, seringkali tidak akurat dan selektif dalam memilih sumber media.

"Ini adalah fakta dan berita hanya parsial dalam satu kasus tertentu. Media massa juga harus dikritik sehingga kita harus melakukan 'pemeriksaan dan keseimbangan' dari semua pilar demokrasi," katanya.

Penyiar: Priestly Priestly
Editor: M Arief Iskandar
HAK CIPTA © Antara 2020

[ad_2]

Source link