Kejahatan Lagi, Tahanan Asimilasi Ditembak Mati di Tanjung Priok

Fachrur Rozie

[ad_1]

Liputan6.com, Jakarta – Seorang pria dengan AR awal (42) harus mati setelah ditembak mati oleh Kepolisian Metro Jakarta Utara. AR ditembak mati di daerah RE Martadinata, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada hari Sabtu, 18 April 2020.

Kepala Kepolisian Daerah Jakarta Utara Komisaris Besar Buddi Herdi Susianto mengatakan AR adalah orang yang dibebaskan karena program asimilasi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia terkait dengan wabah virus Corona atau Covid-19.

"Dia baru saja dibebaskan dari penjara di Bandung, sebelumnya di Prentice, kemudian pindah ke Bandung dan sedang mengejar program asimilasi," kata Budhi, Minggu (4/4/2020).

Menurut Budhi, setelah dibebaskan, AR kembali melakukan kejahatan. Pada hari Minggu, 12 April 2020, AR dan rekannya, JN, menangkap seorang penumpang barang di daerah Tanjung Priok.

AR dan JN tidak ragu melukai para korban dengan senjata tajam yang mereka bawa dengan setiap aksi.

"Tersangka telah melukai korbannya, seorang wanita yang kebetulan berada di transportasi M15 ke Tanjung Priok. Dari insiden itu, korban menderita luka-luka di tangannya," kata Budhi.

Polisi pertama kali menangkap JN setelah menerima laporan dari korban. Sebagai hasil dari perkembangan, empat hari setelah laporan, keberadaan AR akhirnya terdeteksi.

Pada Sabtu malam, AR ditemukan di taksi dan hendak menyusuri Jalan Mart Road RE. Polisi yang mengetahui segera menyerang AR.

Namun upaya polisi tidak berjalan baik. AR menolak dan memukul sabit yang melukai salah satu petugas polisi. Tidak ingin mengambil risiko, anggota segera menembak AR dan meninggal di tempat kejadian.

"Kami mengambil tindakan tegas terhadap pelaku karena menyakiti para anggota dengan sabit dan mereka menikah," kata Budhi.

[ad_2]

Source link