Komunitas perbatasan membutuhkan harga makanan pokok dengan harga reguler

Masyarakat perbatasan butuhkan kecukupan sembako dengan harga normal

[ad_1]

SINGAPURA (ANTARA) – Komunitas perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat setelah wabah COVID-19 saat ini sangat membutuhkan pasokan makanan yang memadai dan harga normal.

"Ketersediaan makanan pokok di daerah perbatasan sangat terbatas, jadi sangat jarang. Jika ada, kenaikan harga akan lebih mahal," kata ketua Asosiasi Kalimantan Barat (Asppindo Kalbar) Christo Lomon kepada Antar melalui telepon pada hari Minggu.

Baca juga: Satgas Pamtas melakukan data tentang warga yang melintasi perbatasan untuk mencegah COVID-19

Baca juga: Satuan Tugas RI dan Satgas Malaysia memperoleh 1.350 pon gula ilegal

Menurut Christo Lomon, gula yang diimpor dari ibukota Kalimantan Barat di Pontianak ke Entikong pada tingkat ritel adalah sekitar Rp 35.000 per kg.

Makanan lain, seperti tepung beras, tepung terigu, dan minyak goreng, mengatakan harga juga naik di tingkat ritel, khususnya di lima distrik di Sanggau, Entikong dan Sekayam, yang berbatasan dengan Sarawak Malaysia, dan tiga kabupaten lainnya, Noyan. , Baduai, dan Liburan.

Menurut Christo, ekonomi masyarakat perbatasan masih tergantung pada interaksi perdagangan lintas batas antara Indonesia dan Malaysia.

"Karena kebutuhan pangan belum sepenuhnya dipenuhi oleh pasokan dalam negeri, beberapa makanan pokok dan kebutuhan lainnya masih diimpor dari negara-negara tetangga," katanya.

Kepala Presidium untuk Pembentukan Daerah Otonom Baru Kabupaten Sekayam Raya, divisi Kabupaten Sanggau di Kalimantan Barat, mengatakan situasi saat ini di daerah perbatasan merupakan masalah bagi masyarakat.

"Selain itu, orang-orang yang bekerja setiap hari dalam sistem perdagangan lintas batas kini kehilangan mata pencaharian mereka, setelah Malaysia mengadopsi kebijakan karantina regional dan menutup semua akses perdagangan lintas batas," katanya.

Baca juga: Tim Penyelamat gagal menyelundupkan 1,5 ton gula di perbatasan

Baca juga: Komandan Angkatan Darat XII / Tanjungpura mengunjungi Pos Komando COVID-19 di Aruk dan Entik

Christo menjelaskan bahwa sebelum Malaysia mengadopsi kebijakan penguncian karantina regional, mulai minggu ketiga Maret 2020, lebih dari setengah kebutuhan pangan perbatasan masih diimpor dari negara-negara tetangga.

Sekretaris Asosiasi Dayak Serumpun mengatakan bahwa ada bantuan sosial dari pemerintah, tetapi jumlahnya terbatas dan distribusinya terbatas pada penerima.

Christo juga menekankan bahwa banyak usaha kecil dan menengah (UKM) menutup usaha mereka karena kesulitan dalam memperoleh bahan baku karena mereka langka dan mahal.

"Orang-orang perbatasan sangat membutuhkan kehadiran negara dengan menyediakan makanan yang memadai dan harga normal," katanya.

Penyiar: Riza Harahap
Editor: Relawan Endang
HAK CIPTA © Antara 2020

[ad_2]

Source link