Lebih lanjut, Yogya Akhirnya Membatasi Operasi Pasar dan Kafe

Kendaraan melintas di kawasan Nol Kilometer Yogyakarta, DI Yogyakarta. Pemkot Yogyakarta akhirnya melakukan pembatasan operasional terhadap pasar, toko dan kafe. Hal ini dilakukan untuk menjaga protokol corona tetap dapat dijalankan dengan baik dan disiplin sosial yang tinggi.

[ad_1]

Selain memblokir operasi Yogya Pekot juga memberlakukan protokol mahkota di pasar

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta akhirnya menetapkan batas pada pasar operasi, toko dan kafe. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa protokol mahkota berfungsi dengan baik dan disiplin sosial yang tinggi.

Kepala Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, mengatakan sanksi itu juga mengingatkan warga bahwa ancaman virus koroner masih ada dan bahwa semua harus tetap waspada. , "kata Heroe, Minggu (19/4).

Dia juga mengingatkan warga bahwa alih-alih berkumpul, lebih baik tinggal di rumah. Selain itu, Heroe berharap bahwa blokade akan membuat orang-orang dari luar kota tetap menunggu, dengan murah hati, daripada memperjuangkan paket makanan.

Pahlawan berpendapat bahwa meskipun kasus Covid-19 di Yogyakarta cenderung menurun, penyebaran virus dapat terjadi pada siapa saja dan di mana saja tanpa kehati-hatian. Dan, terapkan protokol mahkota dengan disiplin sosial yang tinggi.

Untuk 30 pasar, waktu penutupan adalah 09: 00-12: 00. Pasar Beringharjo hingga pukul 15:00 dan hanya Pasar Market Center yang buka 24 jam. Menurut Heroe, perbedaan waktu penutupan terjadi karena beberapa alasan.

"Karena karakteristik pasar yang berbeda, barang penjualan yang berbeda, dan untuk mengatur distribusi pembeli, jangan menumpuk di pasar tertentu pada jam-jam tertentu," kata Heroe.

Pemerintah Yogyakarta juga menghapus pasar yang mengadakan hari-hari pasar tertentu seperti Pasar Legi. Dengan keputusan ini, pasar ditutup terlebih dahulu karena pasar reguler terus beroperasi secara teratur.

Dia menekankan bahwa di pasar protokol koronal akan ditegakkan kembali. Pemula harus mengenakan topeng, harus mencuci tangan dengan sabun yang disediakan di depan gerbang, pembatasan di lorong, dan membatasi garis pembeli di setiap kios.

Bahkan, pedagang diminta mulai menggunakan sarung tangan. Heroe mengungkapkan bahwa itu harus dilakukan karena masih ada pasar yang ramai dengan pembeli.

"Jadi ada banyak orang yang berpotensi menyebarkan virus koroner," kata Heroe.

Heroe juga meminta orang untuk tidak terburu-buru ke pasar. Pemerintah Yogyakarta memfasilitasi transaksi online, melalui WhatsApp dan aplikasi seperti Distribusi dan Penjualan di Jogja Smart Service (JSS).

Di JSS, lanjut Heroe, penduduk juga dapat melihat harga untuk kebutuhan dasar. Hal ini dilakukan agar kebutuhan dasar masyarakat dapat dipenuhi, dengan akses ke pedagang, petani, pemulia, dan protokol koroner masih berfungsi.

"Selain itu, ada batasan waktu buka dan tutup untuk toko jaringan dan sejenisnya, mulai pukul 10:00 hingga 21:30. Hal yang sama berlaku untuk kafe, restoran, dan lainnya hingga pukul 23:00," kata Heroe.

Juga, kapasitas tempat duduk wajib 50 persen dengan jarak yang aman antara kursi. Heroe juga meminta pemilik cincin untuk mengatur pengaturan tempat duduk untuk menjaga jarak. "Ini dilakukan untuk mengurangi keramaian dan aktivitas yang hanya hang out," kata Heroe.

Untuk penegakan, patroli sedang dilakukan untuk mengingatkan dan memohon untuk segera kembali. Selama waktu ini, permohonan di desa dilakukan oleh Kantor Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan melalui kendaraan pembicara.

Mengingat peningkatan lalu lintas, Pemerintah Kota mengurangi PPP, Badan Transportasi, BPBD dan OPD terkait. ASN berbasis rumah akan dilibatkan sehingga ketahanan personel yang tinggi dan kesukarelaan ASN akan dilatih.

[ad_2]

Source link