Mayat Covid-19 Martyrs, Ini Kisah Pengemudi Ambulans

<pre><pre>Mayat Covid-19 Martyrs, Ini Kisah Pengemudi Ambulans

[ad_1]

JATIMPOS.CO//SURABAYA – Selalu ada cerita menarik ketika Gubernur Khofifah berjuang untuk mengatasi epidemi co-19 di Jawa Timur. Selain dialog dengan pasien yang pulih, penjelasan untuk pasien meninggal, untuk berbicara dengan sopir ambulans yang memberikan mayat.

Kemarin (18/4) gubernur menjelaskan mayat covid-19 dan berbicara dengan sopir ambulans yang mengantarkan mayat itu. Dalam konferensi video (vidcon), Gubernur Khofifah berbicara dengan sopir ambulans dari Dr. Soetomo, Rumah Sakit Umum Haji, Rumah Sakit Umum Menur, juga adalah Komandan Distrik Nganjuk. Termasuk, dua pengemudi ambulans dikirim ke Grahadi.

Menjawab pertanyaan dari Gubernur Khofifah, hampir semua pembalap baik dari Dr. Soetomo, Menur RSJ, Rumah Sakit Haji dan mereka yang sedang mempersiapkan Grahadi rata-rata khawatir ketika mereka melakukan pemakaman. Namun, kegelisahannya masih berubah ketika kematian pasien ke-19 diterima dengan baik oleh warga negaranya.

"Awalnya, ketika kami menyerahkan tubuh dengan kecemasan, kami ragu bahwa akan ada penolakan dari masyarakat setempat. Koramil "Sejauh ini prosesnya telah berjalan dengan lancar," kata Tri Prasetya, pengemudi RSJ Menur Hospital yang telah mengirimkan sisa-sisa 19 pasien positif ke Nganjuk.

Selain itu, semua pengemudi ambulans mengaku bertugas untuk mengantarkan mayat-mayat pasien covid-19 mereka menggunakan peralatan pertahanan diri lengkap (APD). Ini juga merupakan upaya untuk menjaga diri Anda tetap aman saat bertugas.

"Kami khawatir tentang pengiriman jenazah. Tetapi karena kami menggunakan APD penuh saat bertugas, kami merasa aman dan percaya diri bahwa tidak akan ada transmisi atau transmisi selama proses pemindaian," kata Nizam, salah satu pengemudi ambulans yang sedang mempersiapkan Grahadi.

"Dan setiap kali kami membawa mayat, hanya ada 2 orang, 1 pengemudi dan satu perawat," tambahnya.

Semua pengemudi ambulans memerintahkan penduduk untuk tinggal di rumah sesuai dengan saran pemerintah. Bagi mereka yang melakukan pekerjaan sehari-hari, mereka mengakui bahwa masih banyak orang yang tidak sadar tinggal di rumah untuk menghentikan penularan virus.

Martir
Untuk mayat Muslim Covid-19, menurut Khofifah, meminta adalah salah satu hak penguburan selain dimandikan, dikuburkan, dan dikuburkan. Hukumnya adalah fardhu kifayah. Sekalipun hanya satu orang, tubuh tetap harus dicintai.

Namun, Khofifah juga memperingatkan bahwa mereka yang melakukan pengelolaan jenazah mengikuti protokol medis dengan mempertimbangkan ketentuan Syariah. Doa jenazah, katanya, harus dijauhkan dari penularan virus, sehingga lokasi sholat harus diadakan di tempat yang aman dari penularan Covid-19.

Dewan Cendekiawan Indonesia (MUI), kata Khofifah, telah mengeluarkan putusan. 18, 2020 yang menyatakan bahwa Muslim yang meninggal karena pecahnya Covid-19 dalam opini Islam 'termasuk dalam kategori para martir nanti. Karena itu, hak-hak tubuh tetap harus dipenuhi, yaitu, dimandikan, halal, dan dikubur.

"Juga, agar tubuh bisa tenang, karena dalam protokol untuk pengelolaan jenazah hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis.

Pada kesempatan itu, Khofifah juga mendesak semua orang di Jawa Timur untuk tidak menolak pemakaman Covid-19 seperti yang terjadi di tempat lain. (n)

[ad_2]

Source link