Mencegah Kerumunan, Jembatan Gantung Imogiri Ditutup

<pre><pre>Mencegah Kerumunan, Jembatan Gantung Imogiri Ditutup

[ad_1]

Merdeka.com – Jembatan gantung yang terletak di Desa Pengkol, Desa Sriharjo, Kabupaten Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, benar-benar ditutup. Penutupan ini untuk menghindari keramaian turis dan pengendara sepeda yang berpotensi mendistribusikan Covid-19.

"Jika jumlahnya ditutup, itu adalah Jembatan Pengkol, karena saya dan pemerintah desa Selopamioro Imogiri memiliki kesepakatan bersama, saya memiliki pandangan yang sama," kata kepala desa Sriharjo Imogiri, Istiyawatun Khasanah Point ketika dihubungi antara Minggu (19/4).

Menurutnya, penutupan jembatan gantung Pengkol, yang telah menjadi tempat wisata bagi penduduk lokal dan pengendara sepeda, terutama pada pagi hari libur mulai hari ini, Minggu (19/4) hingga batas waktu yang tidak ditentukan dan informasi lebih lanjut.

Intinya, sejumlah besar turis dan pesepeda di jembatan Pengkol membuat warga resah. Banding setelah naik banding sebelumnya telah diberikan, sehingga pengunjung tidak berhenti di tengah jembatan dan mengambil benda di sekitar mereka, tetapi diabaikan.

"Karena kondisi yang sangat mengganggu dan banyaknya pengendara sepeda ketika ada antrian yang menumpuk di tengah jembatan, sangat berisiko bahwa kami (Pemdes) Sriharjo dan Selopamioro sepakat untuk menutup jembatan Pengkol," katanya.

Dia mengatakan bahwa sebelum pecahnya virus Corona baru, jembatan gantung Pengkol yang menghubungkan desa-desa Sriharjo dan Selopamioro menjadi salah satu tujuan wisata di desanya, banyak penduduk dan pengendara sepeda mengunjungi dan menyeberang dan bertukar gambar di sekitar jembatan.

"Saat aman, tidak ada ancaman COVID-19, kami menyambut Anda, tetapi kami mengundang Anda untuk berkunjung. Tetapi sekarang, demi keamanan dan kenyamanan (jembatan ditutup), kami berharap semua orang akan mengerti," katanya.

Intinya adalah, jika pintu masuk jembatan tidak ditutup, di tengah situasi Covid-19, ribuan pengendara sepeda berbondong-bondong membuat orang tidak nyaman, pada awalnya desa masih toleran hanya lewat tanpa berhenti dan memegang barang-barang di sekitar, tapi permohonan itu tidak dipatuhi.

"Warga masih bisa mencapai tujuan mereka dengan mengambil jalan memutar (tidak melintasi jembatan). Ini sementara, demi keamanan dan kenyamanan," katanya. [fik]

[ad_2]

Source link