Perniagaan Ikan Hiasan Bergegas di Tengah Corona

AJNN.net - Aceh Journal National Network

[ad_1]

Perniagaan Ikan Hiasan Bergegas di Tengah Corona
Teks Foto – Syazali ketika membungkus ikan hiasan guppy di rumahnya. Foto: AJNN / Safrizal

LHOKSEUMAWE– Penyebaran cepat korona merebak pasti mempengaruhi kitaran ekonomi dan sejumlah sektor perniagaan di negara ini hampir dihentikan.

Pada saat sejumlah perniagaan 'tidak beroperasi' di tengah-tengah wabak pendedahan Covid-19, seorang penternak yang bekerja di bisnis penanaman ikan hiasan guppy di Desa Uteungkot, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe bahkan memperoleh keuntungan besar.

Syazali (34) sebenarnya tidak memiliki kepakaran dalam peternakan ikan, tetapi dimulai dari hobi dan ketekunan, seorang seniman yang mengukir alat etnik Aceh. Bahkan ikan dari penanaman telah dihantar ke hampir semua pelosok Nusantara dan juga negara-negara asing.

Di AJNN. Net mengunjungi rumahnya, ribuan guppy berada di berpuluh-puluh akuarium berjajar. Puluhan spesies ikan kecil dengan ekor dan corak berwarna-warni adalah hasil ketekunan Syazali dalam teknik pembiakan ikan guppy.

Dalam membiakkan guppy dalam tiga tahun terakhir, Syazali telah memperoleh sejumlah pencapaian dari berbagai pertandingan ikan guppy, salah satunya telah memenangi kategori Pedang Teratas di Indonesia. Walaupun pada awalnya hanya bersenjata dengan sepasang guppy yang diperoleh Syazali dari seorang rakannya.

Dengan modal Rp 150 ribu, Syazali terus mengembangkan perniagaannya dengan perlahan tetapi pasti, seiring berjalannya waktu, Syazali semakin terpesona dengan janggut kecil yang cantik untuk mengepakkan sayapnya dalam menyediakan makanan dan aksesori ikan hiasan.

"Awalnya, itu hanya dari hobi, kemudian terus dibiakkan dengan pelbagai jenis ikan guppy lain di rumah," kata Syazali Ahad (19/4).

Ikan guppy air tawar sangat diminati oleh orang ramai kerana keindahan ekornya yang melengkung dengan pelbagai warna. Jadi ia akan kelihatan cantik ketika diletakkan di akuarium sebagai hiasan bilik.

"Semasa wabah korona, bahkan pesanan untuk ikan hiasan guppy dari luar wilayah meningkat dengan cepat hingga sepuluh kali ganda dari hari-hari biasa," katanya.

Selain itu, katanya, guppy bukan pejuang biasa atau ikan individu. Guppies akan menjadi lebih menarik untuk dilihat dan ramah ketika ditempatkan di satu akuarium dalam jumlah besar, walaupun kedua-duanya jantan.

Di rumahnya, Syazali mempunyai 20 lagi pasang ikan guppy asli. Setiap ikan guppy juga mempunyai harga yang berbeza-beza. Untuk yang paling mahal, Syazali pernah menjual Rp 2 juta sepasang.

"Nama ikan guppy di rumah adalah guppy gras biru, logam kuning, renda perak, pasangan muda, moscow hitam, biru moscow, platinum Jerman, naga merah hijau, rumput, mosaik, putih merah jambu, biru jepang dan beberapa jenis nama yang lain, "kata Syazali

Dia mengakui bahwa saat ini mereka memiliki komunitas Aceh Guppy Comunity (AGC) di Aceh. Sebenarnya, dia sudah mula memesan ikan secara langsung dari guppy luar negara seperti, Thailand, Hong Kong, Malaysia ke Taiwan.

Untuk penjualan ikan guppy itu sendiri, kata Syazali, ia dilakukan secara dalam talian melalui media sosial dengan nama akaun Facebook dan IG Djalee Guppy, beberapa di antaranya juga datang ke rumah itu secara langsung.

Dari hasil penanaman ikan guppy, dia Rp 10 hingga 15 juta sebulan. Keadaan pendapat semasa telah meningkat 10 kali ganda dari hari biasa.

"Di masa depan, selain aksesori, kami akan mengembangkannya lagi melalui Aqua Scep (akuarium di akuarium)," kata Syazali.

[ad_2]

Source link