Serangan Jantung Bisa Menyebabkan Kematian, Apabila Telat Minta Pertolongan

Jakarta – Berdasarkan Global Health Data Exchange pada tahun 2017, penyakit Sindroma Koroner Akut (SKA) atau yang lebih dikenal sebagai serangan jantung, dan angin duduk menempati peringkat utama kematian di Indonesia. Di samping itu, sekitar kurun masa-masa sepuluh tahun terakhir, angka penderita serangan jantung yang meninggal juga meningkat sampai 29 persen.

Ilustrasi Serangan Jantung

Lantas, apa sebetulnya yang mengakibatkan serangan jantung berujung pada kematian? Berdasarkan keterangan dari dokter Dafsah A. Juzar selaku perwakilan Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita dalam presentasinya pada acara Optimalisasi Pelayanan Publik terhadap Pasien SKA, dalil utamanya terjadi sebab keterlambatan pasien untuk menggali pertolongan.

Ini kemudian didasarkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat akan fenomena utama dari serangan jantung tersebut sendiri. “Kalau masyarakat memahami betul tentang fenomena serangan jantung, mereka bisa dengan cepat memeriksakan situasi sehingga menemukan penanganan sedini mungkin,” katanya.

Di samping keterlambatan yang datang dari sang penderita, keterlambatan lain pun dapat ditemukan dari sistem guna rujukan. Dalam urusan ini, dokter Dafsah menyinggung bahwa di Indonesia, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah melulu berjumlah 1.100 orang.

Di samping itu, sebab alatnya yang lumayan mahal, tidak sedikit rumah sakit yang me sti mentransferkan pasien mereka ke lokasi tinggal sakit yang lebih mumpuni. “Kebanyakan dari mereka ini sedang di ibukota. Mangkanya, pasien terutama di wilayah sering terlambat menemukan pertolongan,” katanya.

Oleh sebab itu, sampai saat ini, Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita sedang berkolaborasi dengan tidak sedikit rumah sakit guna memberikan pendidikan dan training untuk supaya dapat menolong pasien serangan jantung. “Sekarang kami merealisasikan SPGDT atau Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu di lokasi tinggal sakit di Indonesia. Harapannya, dapat meminimalisir keterlambatan sistem guna penanganan serangan jantung,” katanya.