Sulit Membunuh Alat Medis Mafia, Sampai Kapan?

Ilustrasi alat kesehatan (alkes).

[ad_1]

VIVA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menunjuk Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir untuk membersihkan mafia alat kesehatan (obat-obatan), bahan baku untuk obat-obatan, dan obat-obatan.

Juru Bicara Menteri BUMN, Arya, mengatakan bahwa pandemi Covid-19 jelas telah mengungkap potret suram dari ketersediaan peralatan medis dan obat-obatan di negara itu karena mafia.

Menurut Arya, Pak Erick menyatakan bahwa kami terlalu sibuk dengan perdagangan (peralatan medis hingga peralatan obat-obatan), tidak mencoba membangun industri dalam negeri untuk pasokan pasokan medis ke bahan baku obat.

Arya mengatakan Erick Thohir telah mencium keberadaan praktik alkohol dan mafia narkoba. Indikasinya, kata Arya, adalah pasokan pasokan medis, bahan baku untuk obat-obatan, dan obat-obatan, yang 90 persennya diimpor. Arya mengatakan Indonesia hanya mengandalkan impor perangkat medis ke bahan baku obat.

Arya melanjutkan, di sini Pak Erick melihat bahwa ada mafia besar, baik global maupun lokal, yang dapat bergabung, yang pada akhirnya membuat negara kita hanya bisnis yang sibuk tanpa produksi dan jelas instruksi Tuan Jokowi kepada Tuan Erick untuk memberantas mafia dengan membangun industri farmasi.

Penegakan hukum

Mengapa pengusaha Orde Baru begitu takut pada Pak Harto?

Karena sistem tenaga jaringan Orde Baru terletak di Muspida, itu disebut Bakorstanasda. Yaitu Muspida ke Kabupaten, Korem, Kodim dan Koramil, ke Babinsa. Jaringan ini memiliki 300.000 pria bersenjata.

Jadi kalau ada pelakunya tinggal masukbel. Sudah mati. Dalam hal suap bupati, dia tiba-tiba meninggal dan Parlemen segera mengadopsi perjanjian baru. Pengusaha keras kepala, yang menimbun, sudah mati. Dalam 1×24 jam. Itu sebelum RT bisa melapor ke Koramil.

Sekolah tua itu …

Ini belum musim. Mengapa Kekuasaan tidak lagi ada di tangan Koramil.

Jadi Menteri BUMN ingin melawan mafia. Mafia itu paman, ya, tapi kakeknya adalah Erick. Bagaimana kamu melakukannya?

Beritahu mafia nasi. Sekarang ada satu kabupaten untuk menyimpan 1 juta ton beras, 1 juta ton gula. Jika ada 10 bos akan ada 10 juta ton beras, 10 juta ton gula.

Sekarang perangkat farmasi dan medis.

Coba saja, Chemistry Farma, bio Farma ingin masuk jaringan ARSSI (Asosiasi Rumah Sakit Swasta di Indonesia). Cobalah. Ada 2.000 rumah sakit yang terhubung dengan kabel telekomunikasi melalui bawah tanah. Jangan memberi tahu mereka untuk mengganti antibiotik, tetapi minta mereka untuk mengganti DDT, jika mungkin.

Jika Menteri Erick dapat menggantikan nyamuk DDT, saya menyambutnya dan menunjuknya sebagai Mafia. Karena lelaki tua itu dia membunuh.

Mengapa Menteri Erick tidak berdaya melawan Mafia?

Soalnya, mafia bukanlah pengusaha angkutan barang atau busway. Mereka memiliki aset sebesar Rp100 Triliun dan setiap bulan dapat meningkatkan kredit Rp1 Triliun.

Pada bulan Januari asetnya meningkat sebesar Rp101 Triliun, Februari menjadi $ 10 Triliun, pada bulan Maret sebesar Rp103 Triliun.

Menteri Erick ingin bertarung, aset geng mereka antara Rp 500-1.000 Triliun. Ini seperti gajah, berbeda dengan gajah. Itu nenek gajah. Jika Menteri Erick melakukannya, harga bawang tidak akan menjadi Rp. 90.000 kilogram.

Mengapa Jokowi tidak mengaktifkan Bakorstanasda?

Kamu tidak bisa Jika memungkinkan, ini akan dimulai dari 2014. Mengapa? Cakupan 5.000 Korps tidak cukup untuk mengendalikan masyarakat. Tidak hanya BN, BNPT juga tidak bisa mengendalikan orang. Jika Anda bisa, jangan repot-repot membuat Bakorstanasda Inpres.

Kekuasaan sudah ada di tangan BI (Bank Indonesia). Pak, bukankah itu salah, Bank Indonesia? Ya Bagaimana itu bisa terjadi? Cobalah. Kriscon (mahkota mahkota) ditangani dengan anggaran Rp 400 Triliun. Via Covid-19 Emergency Cover.

Orang-orang dikendalikan oleh Sorkarno merah. Satu lembar per orang per hari. Itulah efek korona. Satu lembar x total penduduk 7 juta miskin, Rp 700 miliar x 3 bulan, yaitu Rp 60 Triliun BLT (Bantuan Langsung Tunai). (Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM, Alumni Teknologi Pangan IPB, dan Magister Manajemen Universitas Indonesia Lulus 1989)

[ad_2]

Source link