Tidak hanya Pekerja Ramayana, Pekerja Pabrik juga Terancam Bencana Rumah Sakit Corona

<pre><pre>Tidak hanya Pekerja Ramayana, Pekerja Pabrik juga Terancam Bencana Rumah Sakit Corona

[ad_1]


OUR Online, Bogor

Sobri (46) sangat marah ketika sejumlah teman yang bekerja sebagai buruh di Wilayah Cikarang, Bekasi, Jawa Barat diberhentikan karena penurunan produksi.

Selama 2 bulan terakhir, kata Sobri, perusahaannya telah mengurangi puluhan karyawan, karena mereka masih pekerja kontrak.

"Belum lama ini, saya juga sadar karena produksi kami menurun," kata pria yang menjabat sebagai kepala pengawas produksi cermin sepeda motor, Sabtu (4/4/2020).

Baca Juga: 2020 Haji Diancam Akan Dibatalkan Karena Corona, Apa Nasib 221 Ribu Calon?

Efek dari virus koronal atau Covid-19 berlanjut untuk waktu yang lama yang memaksa produksinya dipotong secara parah. Apalagi permintaan dari mitra bisnis telah berkurang.

"Biasanya ada beberapa perusahaan sepeda motor yang sudah antre, tetapi layanannya hanya satu merek sepeda motor," katanya.

Karena ada pengurangan yang membuatnya khawatir. Terlebih lagi, dia telah menghabiskan lebih dari belasan tahun di perusahaan produksi cermin.

"Dari 2006, saya sudah bekerja. Teman-teman lain, walaupun pada saat itu banyak yang diundang, tetapi saya memutuskan untuk tetap," katanya.

Secara kebetulan pada waktu itu, lanjutnya, banyak teman-temannya memilih untuk membangun bisnis mereka secara mandiri. Kecuali dia, yang memilih bertahan karena keadaan keuangan.

"Karena jika kamu bangun secara mandiri, kamu butuh modal, sekarang keterbatasanku adalah modal satu-satunya. Karena teman-temanku dulu pemberani, tetapi aku tidak," katanya.

Dengan situasi saat ini, ia khawatir akan nasib yang sama dengan teman-temannya yang pertama kali keluar pada bulan Maret.

"Dalam situasi ini, saya khawatir juga, mengundurkan diri. Bahkan jika saya dipukul, saya akan pulang," kata orang Kuningan asli Jawa Barat itu.

Sementara itu, ketika ditanya apakah dia adalah peserta dalam daftar kartu pra-kerja, dia mengaku mendaftar. Tapi dia bingung karena online atau masuk tidak semudah berbicara.

"Aku tahu, tapi aku tidak tahu kenapa. Aku bingung, karena aku hanya mencari hal yang sama, kembali ke Belanda lagi," jawabnya.

Sementara konten materi itu sendiri tidak pasti, karena proses pendaftaran selalu gagal. "Aku tidak tahu masuk begitu saja, sulit, aku tidak mau mencoba lagi atau tidak," jelasnya.

Ada jutaan anak yang harus belajar online karena akses internet yang terbatas. Ada banyak staf medis yang tidak dilengkapi dengan APD lengkap. Mari bekerja sama dalam kampanye #AmanDi House untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu menyediakan APD dan fasilitas pendidikan online untuk anak-anak Indonesia. Informasi tentang donasi klik disini.

Mitra Sindikasi Konten: Hukum

[ad_2]

Source link